Artikel Sastera: Kesusasteraan Melayu: Jalan ke Danau Berkilau

12/07/2008

Oleh Dato Dr. KEMALA, Sarjana Tamu Fakulti Bahasa Modern dan Komunikasi Universiti Putra Malaysia. Email: akmaljiwa@yahoo. com

Abdul Samad Said, Shahnon Ahmad dan Arena Wati: Ketegaran Cerita Pendek dan Novel Melayu Malaysia

Selepas Keris Mas, A.Samad Said, Shahnon Ahmad dan Arena Wati dapat dianggap menjulangkan pencapaian novel Melayu mutakhir. A. Teeuw pernah menamakan novel Salina oleh A.Samad Said dan Lingkaran oleh Arena Wati mencapai tingkat internasional. A. Teeuw dalam sebuah prasarannya di Universiti Malaya pada awal 1960-an memberikan kritiknya yang tajam terhadap prosa Angkatan 50 yang diketuai oleh Keris Mas sebagai cerita yang ditangkap oleh kamera murah (cine camera).

Kedalaman perwatakan kurang meyakinkan, hanya dilukiskan secara hitam putih, pergerakan cerita dan pelukisan alam dan konflik kurang berkesan. Tetapi ini lain lagi yang didapatinya apabila berhadapan dengan watak dan perwatakan yang mewarnai Salina oleh A.Samad Said. Perwatakannya hidup dan persoalan kemanusiaannya yang dibawa oleh Salina, Zulfakar, Nahidah dan Hilmi berdarah dan berdaging. Konfliknya ternyata menarik minat dan rfelevan jika dibandingkan dengan novel-novel barat yang kontemporer.

 Bayangkan sahaja Salina dihasilkan oleh A.Samad Said yang baru berusia 20 tahun ketika itu, dia menjadi Kerani (clerk) di sebuah Hospital di Singapura. Setting atau lokasi tempat cerita berlaku adalah di Kampung Kambing, di mana Salina seorang pelacur tinggal bersama kekasihnya Zulfakar. Salina selalu diteror oleh kekasihnya itu. Tetapi dia simpatik kepada Hilmi dan ibunya yang miskin. Hilmi sedang belajar di sekolah Inggeris. Salina membantu dua beranak itu termasuk beaya sekolah Hilmi. Cerita ini berlaku di era Perang Dunia Kedua – pesawat perang Jepang membantai Kota singapura dengan ratusan bom. Mereka para watak itu, India, Melayu, Cina, Benggali, senasib yang miskin dan hina dina berlindung di dalam kubu atau yang mereka sebut shelter. Zulfakar terus memeras Salina dan pada satu kesempatan menodai kesucian Nahidah.

Novel yang tebal inilah yang dihargai oleh A.Teeuw tentang kejujuran, keuniversalan dan versalitet A.Samad Said mempertajam kemampuannya. Tetapi bagi Keris Mas, A.Samad Said jelas ekor kepada Asas 50 yang katanya ikut “mendukung cita-cita Angkatan Sasterawan 50 yang menurutnya ikut “mendukung cita-cita Asas 50, kerakyatjelataannya , mendukung cita-cita kemanusiaannya, menentang kebejatan moral dan sosial – mangsa keadaan yang diakibatkan oleh perang dan penjajahan.” Kreativitas A.Samad Said kian hidup selepas ini dengan novel-novel dalam bahasa Melayu seperti Hujan Pagi dan Daerah Zeni yang mencoba menukilkan alira magico-surrealisme yang dikembangkan oleh pengarang Latin-Amerika Gabriel Garcia Marquez dalam One Hundred Years of Solitude dan Love In The Time of Cholera.

Karya ini mendapat sambutan yang baik dari kalangan kritikawan Malaysia dan pengkaji luar. Magico-surrealism ini turut digarap dalam teater T-Pinki yang memenangkan Hadiah Sastra Perdana karena keunikan dan kekejapan ceritanya. Naskah drama ini sudah dipentaskan seperti juga puisi Al-Amin turut diadaptasi ke pentas. Kehadiran Arena Wati yang memfokus dunia pelaut sebagai tema induknya juga ikut membuka tabir baru, Lingkaran sebuah cerita antar-etnik yang saling ingin menjatuhkan agar “kuasa” yang berada di tangan Melayu itu mesti direbut dan sengkokolan antara dua etnik lainnya, digambarkan melalui permainan catur dan juga pakatan-pakatan dalam pelayaran. Selepas novel ini, Arena Wati menghasilkan sekurang-kurangnya enam novel “besar” yang ,mendapat sambutan pembaca tempatan antaranya Armageddon, Sebuah Trilogi Tiga Genre.

Shahnon Ahmad, yang juga profesor emeritus takdapat dilupakan dengan mahakryanya Ranjau Sepanjang Jalan yang menggali ke in ti umbi kemiskinan petani Jeha dan Lahuma dan keluarganya. Padinya yang sedang menanti masak, itu tiba-tiba diserang oleh ketam berjuta-juta dan memusnahkan padi sebendang dan Lahuma menderita ditusuk duri kakinya oleh duri nibung hingga membusuk. Dan Jeha berkorban jiwa raga merawat penyakit Lahuma yang gawat itu. Novel Ranjau Sepanjang Jalan ini diterjemah ke bahasa Inggeris oleh Adibah Amin dengan judul No Harvest But A Thorn diangkat sebagai salah sebuah antara 10 novel terbaik di Sydney, Australia pada 1980-an. Kalau begitu novel Melayu pernah sampai ke “Danau yang berkilau” itu. Novel ini juga pernah diterjemah ke beberapa bahasa dunia seperti Sweedish, China, Spanish, French, Russia dan lain-lain.

Selain Keris Mas yang bagus cerita pendeknya, Shahnon juga terbilang dengan cerpennya yang membawa citra kasih sayang dan makna kekeluargaan di desa Banggul Derdap yakni cerita keluarganya, ibunya, bapanya, adiknya, Pak Long, Mak Long dan suku sakatnya yang lain dirangkai menjadi kisah yang meangasyikkan. dialog secara kekampungan, pekat dengan dialek Sik di kedah, kita hanya dapat dibantu oleh glosari yang disispkan bagi memahami kan aliran ceritanya: “Al”, “Kalau Ibu sampai Takah Tiga”, “Babi”, “Miting Lagi” antatanya yang kekal dalam ingatan saya. Ada novelnya yang menggarap desa kelahirannya di Banggul Derdap adalah Srengenge dan dua buah novel puitisnya Embun dan Mahabbah,

Novel terakhir ini idealisme kepada halihwal hubungan hamba dengan al_Khaliqnya. Sebagai kolumnis di Dewan Sastera saban bulan Shahnon Ahmad memberikan pencerahan kepada oersoalan di kitaran kreativitas dan memasuki hemisfera mancanegara sama ada di Latin amerika, mahupun di Eropah, di Asia Timur. Semangat yang dilontarkan oleh tiga tokoh pengarang Melayuyang sudah diangkat menjadi Sastrawan Negara Malaysia ini. amatlah mengagumkan. Novel-novel Shahnon, Arena Wati dan a.Samad Said saya yakin mendapat sambutan bukan sahaja di Malaysia tetapi juga di Brunei Darussalam, Singapura dan Selatan Thailand. Karya mereka tidak syak lagi menjadi bahan kajian pada peringkat Universitas loka dan internasional.

Ada dua nama sastrawan Negara Malaysia Noordin Hassan dan S.Othman kelantan juga dala kekhasan persoalannya. Noordin Hassan dikenal dengan teater surealistik seperti Bukan Lalalng diTiup angin yang membawa peralihan menarik dari aspek teaterikal dan musikalitas yang mengadun pengaruh lagu alunan Melayu tradisi dari Utara Semenanjung iaitu dari Pulau Pinang, Kedah dan Perlis. Selepas ini Noordin menggarap tema Islami dengan Teater Fitrah dengan 1400 Hijrah dan Jangan Bunuh Rama-rama dan Cindai. Adalah tipikal teater Noordin mengaun musikal dan berakhir dengan tragedi. S. Othman Kelantanmendalami ikli sosio-politik- ekonomi di kelantan. Juara, angin Timur Laut dan Kota Baru memberikan wawasan tentang kehidupan di negeri Melayu yang masih mempertahankan nilai-nilai ytadisi dan kesenian dan maruah yang dipandang amat sensitive. Harga diri adalah sesuatu yang dipandang tinggi. Tanpa mempertahankannya apabila tercabar, individu itu tak berarti, nah tunggulah bicara pembunuhanyang menyerang apabila tiba malam gelap dengan senjata yang bernama “Kapak Siam” kapak kecil yang amat tajam dan membunuh

 Walaupun ada gedebe dan dahulunya ada Taman Biaritz Park, dan melihat ribuan para ibu menjajakan kuih muih dan sayur mayur atau barang kemas di Pasar Khadijah di sisi pasar tersebut, namun tempat anak-anak muda dan “orangtua” yang masih muda batinnya berhibur dan berjoget dan berjudi secara iseng-isengan tetapi kelantan selalu dikenal dengan panggilan “Serambi Mekah”. alim ulama dan pahlawan terpandang yangdilahirkannya sejak dahulu seperti Tuk Janggut, Tuk Kenali, Kadir Adabi, Zaki Yaakub dan kini Datuk Haji Nik Aziz selalu menyebabkan anak-anak Kelantan terinspirasi, tawaduk dan kangen dengan semangat kealiman dan kepahlawanannya. Dan kini ramai calon pemimpin dan intelektual putra-putri Kelantan meramaikan institusi penting di Kuala Lumpur. S. Othman Kelantan maklum hal ini dan dia sudahpun mewakili dunianya yang eksotis itu.

Sebelum Danau Berkilau Marilah Mengakrabi

Tokoh-tokoh Kreatif Melayu Baru

Walaupun ada persoalan “Bangun” dan “jatuh” dalam percaturan kesusastraan nasional di Malaysia akibat persoalan ekonomi lebih penting dari seni budaya – lalu diutamakan ekonomi global. Jalan singkat untuk ini difikirkan, nah sains dan matematika dan bahasa Inggeris diutamakan, bahasa Melayu, setengah padampun tidak mengapa. Ini eksperimen nasional, maka mulailah! Walaupun ada teriakan dan ratapan, tapi kuping pemimpin menulikan rasa khidmat protes para sastrawan, pemimpin budayawan. Satu jalan praktis mnggiatkan dengan lebih rancak lagi berlipat kali ganda aktivitas budaya dan kesusastraan.

Eksperimen yang tidak mengenal diri dan jati diri, sahsiah dan sebagainya tentu akan tertumbuk ke krikil masalah. Nah, kalau tidak percaya tunggulah, masalah itu akan melingkari selingkar kedaulatan bahasa dan sastera ibunda. dia akan dilontarkan ke pinggir. Tetapi sebelum itu mari kita mengakrabi suara batiniah Faisal Tehrani, SM Zakir, Nisah Haji Haron, Mawar Shafie, Zainal Rashid Ahmad, Muhd Nasruddin Dasuki, Azman Ismail, Siti Aminah Mokhtar, Nazmi Yaacob dan Amaruzzati Abdul Rahim. Mereka sedang “menjadi” dan sedang di perjalanan mencari “Danau Berkilau” masing-masing. Apabila Kesusasteraan Melayu sudah mereka hayati dan menjadi sebagian keperluan hidupnya, jangan bimbang mereka akan sampai ke Gunung tempat Usman Awang berdiri, ke Desa Jaya tempat Shahnon Ahmad menapak keunggulan dan kepasrahannya. Tidak ada “kematian” bagi bakal sastrawan yang sudah jitu semangatnya. yang ada hanyalah ketabahan, kecekalan dan pemaknaan eksistensisebagai pewaris bagi kesusastraan Melayu Baru. Mereka pasti akan menemukan Danau Berkilau itu. Insya Allah.

Disampaikan makalah ini pada Pesta Penyair Nusantara 2008 di Universitas Kadiri, Kediri Surabaya Indonesia pada 1 Juli 2008.

Entry Filed under: Khasanah Dunia. .

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s